Sejarah Perkameraanku
Sejak kecil sebetulnya sudah tersedia kamera klasik Canon AE-1 yang tergeletak hampir tak terurus di sebuah lemari penyimpanan di rumah. AE-1 itu dipakai Bapak untuk mendokumentasikan kegiatan di kantor tempatnya bekerja. Maklum, dia bagian humas dan dokumentasi. Tapi, si Tiwi kecil tampaknya belum terlalu tertarik mengutak-atik barang antik tersebut. Oh iya, Bapak juga punya Yasica Electron (kalau tidak salah ingat) yang juga hampir tidak terurus. Baru saat masuk kuliah dan banyak teman yang rajin melakukan acara hunting foto bareng, saya mulai tertarik untuk memegang kamera klasik milik Bapak.
Waktu pakai AE-1, saya harus rela mengurangi jajan demi membeli rol-rol film dan membiayai proses cetak foto. Berlembar-lembar foto dicetak walaupun hasilnya tidak terlalu menggembirakan. Yah…, namanya juga belajar. Obyek foto favorit saya adalah gedung-gedung tua. Walaupun anak Antrop, saya masih agak segan berdekatan dengan manusia tak dikenal
Seiring berjalannya waktu, saya pun lebih memberanikan diri untuk memotret hal-hal lain yang (ternyata) lebih menarik! Namun, seiring berjalannya waktu bukannya tambah bagus pegangan kameranya, saya malah senang memegang kamera pocket. Kebetulan waktu itu Bapak bawa Olympus Myu 1 dari seberang sana. Sebenarnya itu kamera titipan orang. Bapak dimintai tolong untuk membelinya saat sedang bepergian. Tapi (untungnya), si orang itu tidak berkenan dengan kamera yang sudah Bapak beli. Jadilah keberuntungan jatuh pada saya!
Selain si Olympus, saya sebetulnya membeli Nikon F55 dari seorang teman. Waktu itu saya ingin sekali punya kamera yang dilengkapi dengan fasilitas auto focus. Nyatanya saya tidak berjodoh dengan Nikon. Keyakinan kami berbeda
Saya pun lebih sering bermain dengan AE-1 dan Olympus.
Saya masih setia bersama AE-1 dan Olympus hingga era digital hadir dan membuat euforia di mana-mana. Tapi saya tidak begitu saja langsung punya kamera digital. Lah wong penghasilan masih di bawah UMR. Akhirnya, tahun 2004 saya memberanikan diri untuk mencicil Canon Powershot A75, sebuah digital pocket camera 3,2 mega pixel. Girangnya seperti punya digital SLR saja! Jepret sana, jepret sini, retouch sana, retouch sini. Saya menikmati sekali bisa motret seenak jidat dan menikmati hasilnya tanpa melewati proses cetak di lab foto. Benar-benar sebuah pengalaman baru yang mengesankan! Sadar kalau kemampuan motret dan peralatan motret masih pas-pasan, saya pun makin rajin bertanya sana-sini tentang program photoshop.
Ternyata umur A75 cuma beberapa tahun saja (penyakit kamera digital pada umumnya: sensor rusak!). Lepas tahun 2006 saya cuma bisa pakai kamera-kamera pinjaman dari orang saja. Sekarang saya pakai Canon Powershot G9, sebuah digital pocket camera yang—saya pikir—sangat cocok untuk saya. Rasanya ini keputusan yang tepat! Saya belum mampu membeli kamera digital SLR yang semi pro. Lagipula, kamera jenis itu ber-body besar. Badan saya yang kecil ini jadi kebanting kalau nenteng digital SLR semi pro. Ditambah lagi, review-review menyebutkan kalau G9 sering dipakai sebagai second camera oleh para fotografer untuk menangkap moment yang terjadi sangat cepat, yang terjadi cuman dalam hitungan detik (saya terlalu hiperbola kayaknya ya?
).
Beberapa moment yang terakhir saya abadikan dibidik dengan G9. Prewed + wedding Tita-Abi dan Marini-Edward adalah hasil bidikan si Katya (nama diberikan untuk G9 milik saya). So, Katya is my precious now!