Akhir Pekan Tanpa ke Mal

Suatu hari saya pernah membaca tentang ide menghabiskan akhir pekan bukan di mal, karena seepertinya orang zaman sekarang sudah tak bisa lepas dari gedung tempat berkumpulnya aneka rupa pedagang, penjaja makanan, dan penyedia jasa hiburan, kecantikan, plus kesehatan ini. Mal seperti menjadi belantara pelipur lara bagi banyak orang. Dan kita semua terlena di sana karena semua tersedia dan yang penting: gak pake gerah kepanasan!

Beberapa orang yang peduli pada nasib anak-anak mereka dan penerus bangsa Indonesia, plus orang-orang lain yang mulai bosan dengan udara kalengan, akhirnya muncul dengan ide cemerlang tersebut. Saya yang pada dasarnya jarang ke mal karena keseringan bokek, sebenarnya tidak terlalu terpengaruh dengan berdirinya mal-mal di Jakarta yang memanggil-manggil untuk disinggahi. Tapi, saya pikir, beraktivitas di luar mal selama akhir pekan adalah ide yang menarik.

Pertama, karena pasti lebih irit. Kedua, cocok buat orang-orang seperti saya yang tidak terlalu menikmati udara kalengan dari mesin pendingin—yang kadang bikin perut kembung masuk angin #ndeso. Ketiga, tampil beda dong ah. Jangan mainstream melulu!

Lalu, ke mana saja kalau kita tidak ke mal? Menurut bayangan saya ada beberapa alternatif: taman kota, museum, nonton pameran, nonton pertunjukan musik, teater, film, diskusi, atau nonton pameran di taman, bisa juga diskusi di taman, nonton pertunjukan musik atau puisi di museum. Boleh juga mengunjungi tempat-tempat wisata di Jakarta (ataupun luar Jakarta), menengok sanak saudara, bertamu ke tetangga, berkegiatan bersama ibu-ibu PKK atau karang taruna, bikin bakti sosial ke panti asuhan, panti wreda, dan masih banyak lagi.

Saya, yang gak mau dibilang omdo, dengan semangat ’45 pun mencoba “mengamalkan” hal-hal yang beberapa gelintir orang sarankan itu.

Kumpul-Kumpul di Taman Suropati

Kebetulan saya punya teman-teman yang sehati dan sekata. Jadi, waktu janjian ketemuan pasca tahun baru tanpa tema tertentu, sesudah makan dan berhaha-hihi terus gak tahu mau ke mana padahal hari baru menjelang sore, kami akhirnya memutuskan ke Taman Suropati dari Megaria. Ide ke taman ini muncul dari rembukan alot dan bertele-tele sebenarnya. Kami mesti numpang ngadem di lobi bioskop XXI saking kelamaan diskusi di luar gedung sampai kepanasan.

Waktu akhirnya sampai di Taman Suropati, kami pun lega dan bergembira ria. Sama sekali tidak menyesali keputusan memilih tempat itu. Yup, menyenangkan sekali rasanya bisa merasakan kerimbunan pepohonan di tengah Jakarta yang semerawut. Di sana ada banyak bangku yang bisa dipakai buat bercengkrama bersama teman, pacar, dan keluarga, ada area rerumputan cukup lapang tempat berdiri kandang merpati (plus merpatinya tentu saja), air mancur, bebatuan yang bisa dipakai melemaskan saraf-saraf di kaki, dan aneka macam pedagang makanan plus minuman. Kalau beruntung, mungkin saja ada pameran yang sedang digelar atau seniman-seniman yang sedang berlatih saat kita berkunjung ke sana.

Yang pasti, jangan khawatir bakal kehausan dan kelaparan, karena di sekeliling taman berjajar pedagang kaki lima yang menjajakan sajian khas berselera makanan seperti ketoprak, tahu gejrot, aneka minuman, mi ayam, nasi goreng, bakso. Lebih irit daripada makanan di mal, kan?

Nonton Pameran di Galeri Seni

Kira-kira selang seminggu setelah sesu-seruan di Taman Suropati, saya menghadiri acara keluarga di Galeri Rumah Puspo, Ciputat. Emang ada acara keluarga apa? Jadi gini, sepupu saya yang kebetulan seorang pelukis, berpameran di sana. Kami pun diundang ke acara pembukaan pameran bersama beberapa pelukis bertema “Sana Sini Seni Saya Sendiri”.

Galeri seni bisa jadi salah satu alternatif tempat melewatkan akhir pekan, sebab di sana selain sering diadakan pameran, juga kadang digelar pertunjukan musik, tari, atau workshop membatik, juga keramik. Kalau Ciputat dirasa kejauhan, mungkin bisa rajin cek jadwal kegiatan Bentara Budaya, Palmerah; galeri Cemara, menteng; Galeri Nasional, Jakarta Pusat; pusat-pusat kebudayaan asing di Jakarta; dan galeri-galeri hits di Ibukota yang saya yakin banyak banget. Oh iya, kalau datang ke acara pembukaan pameran biasanya ada makanan gratis! Hehehe….

Malam Mingguan di TMII

Siapa bilang pergi ke Taman Mini Indonesia Indah is so last decade? Pasti itu orang kudet, alias kurang update. Dulu, sewaktu saya ABG, pergi ke TMII sempat dianggap kegiatan orang udik. Dipikir orang-orang dari luar Jakarta aja yang pantes ke sana. Padahal, di taman Indonesia mini banyak yang bisa dilihat loh. Bukan cuma rumah-rumah dan pakaian adat—yang mungkin sebenernya kita belum tahu juga—yang ada di sana, banyak pula aktivitas budaya yang bisa kita ikuti dan tonton. Kita bisa ikut gabung latihan menari. Tinggal cek anjungan mana yang menawarkan les tari.

Yang seru lagi, kita bisa ke TMII malam hari. Iya, tapi cuma ke tempat-tempat yang dibuka untuk acara tertentu—di luar acara kondangan. Biasanya, di bulan April TMII banyak menggelar pertunjukan untuk memperingati ulang tahun mereka. Tanggal 16 April lalu, saya bersama keluarga datang ke anjungan Jawa Tengah untuk nonton sendratari Ramayana lakon Hanoman Duta.

Pertunjukan digelar di teater kolam terbuka, di bagian depan anjungan Jawa Tengah. Saya pikir, kami bakal mudah saja menemukan tempat duduk karena kemungkinan pertunjukan macam itu agak sepi peminat. Untungnya kami salah sangka. Deretan bangku yang berbentuk memutar setengah lingkaran itu padat sesak! Wah…, rasanya terharu sekali. Ternyata masih banyak orang yang mau menyempatkan diri mengapresiasi budaya bangsa sendiri. Apalagi di antara penonton banyak duduk anak kecil yang diajak orang tua mereka. Bisa jadi orang-orang itulah pembawa ide berakhir pekan tanpa ke mal!

Night at the Museum

Ya, kurang lebih sama seperti film Hollywood dengan judul tersebut. Menghabiskan malam di museum. Untungnya saya cuma duduk di salah satu bagian museum; Taman Arkeologi, Museum Nasional a.k.a. Museum Gajah—di antara patung-patung batu peninggalan masa lalu, jadi gak pake macam-macam yang mengagetkan. Ngapain aja di sana? Menikmati konser Ari-Reda yang menampilkan musikalisasi puisi. Rasanya? Syahdu dong!

Acara yang satu ini jadi istimewa karena di sana saya bertemu teman-teman kuliah dan kakak-kakak senior yang senior banget. Hihihi…. Ceritanya ada anak Antrop ‘90 yang berkarya di Museum Nasional. Waktu ada keriaan di sana, keruan dia mengerahkan para Antroper untuk jadi pelaksana kegiatan, termasuk pengisi acara, dan para pengunjungnya.

Nonton konser aja udah menyenangkan. Apalagi di museum, di tengah taman yang outdoor. Kurang apa coba, denger musik enak, duduk santai bareng teman-teman yang jarang kita temui, sambil menghirup udara segar. Yang bikin tambah seru, di tengah konser, tiba-tiba aja gerimis datang. Jadilah beberapa penonton kocar-kacir berteduh ke pinggiran. Tapi, beberapa yang lain cuek saja duduk di rumput dilindungi payung warna-warni.

Oh iya, Museum Nasional ini termasuk museum yang rajin menggelar kegiatan untuk umum. Kalau gak salah, ada latihan tari tiap Sabtu pagi. Lalu, sepertinya juga ada workshop membatik. Ada pula program yang dibuat sesuai tema, bekerja sama dengan pihak lain. Kadang juga digelar pameran tidak tetap yang bisa dikunjungi saat tertentu, di samping tentunya ruang-ruang pamer di museum yang selalu bisa disambangi setiap waktu—sesuai waktu operasional museum. So rajin-rajinlah mencari tahu.

#Jakartawalkingtour

Saya ngiri banget pas lihat brosur walking tour yang saya pungut di bandara Penang. Waktu itu saya cuma berangn-angan, andai ada program serupa di kampung saya, Jakarta. Eeh…, ternyata ada loh! Saya menemukannya—kalo gak salah—di Indie Travel Mart, di Citos, November 2015. Jakarta Good Guide namanya, menyelenggarakan walking tour dengan beberapa pilihan rute (sampai saat ini ada sembilan rute). Modelnya pay-as-you-wish tour gitu. Saya pun memantau serta mempelajari rute-rute yang ditawarkan via akun Instagram mereka @Jakartagoodguide.

Lalu, suatu hari di awal Juni, saya memberanikan diri mendaftar—via e-mail—ikut salah satu rute Jakarta Walking Tour Festival dalam rangka ulang tahun Jakarta. Karena bulan puasa, tur diadakan sore hari, pukul 15:30 hingga sekitar pukul 17:30. Jatinegara, itu rute yang saya pilih, karena Kota Tua udah sering, dan rute Jatinegara sepertinya jarang dibuka/di-request. Mumpung gitu lah.

Banyak juga cerita tentang Jatinegara yang ternyata cukup kondang dan penting di zaman dulu. Setasiun Jatinegara salah satu buktinya, menjadi penghubung antara Batavia, Bekasi, Karawang. Kalo mau tau cerita lebih banyak lagi, ikutlah program tur jalan kaki ini. Seru!

Kemarin itu kami jalan berbanyak (lupa ngitung total pesertanya). Sepuluh orang sih lebih. Pas tur akan dimulai pada pukul 15:30, ternyata beberapa peserta belum sampai di meeting point. Kami pun sepakat untuk mulai pukul 15:45, sementara yang lainnya akan menyusul. Beberapa peserta pun dengan ajaibnya ikut bergabung di saat rombongan sudah jalan. Kenapa ajaib? Karena kami sempat keluar-masuk kampung, dan mereka dengan sukses menemukan kami!

Teman jalan saya kemarin lumayan enak. Kelihatannya mereka benar-benar punya ketertarikan soal sejarah/gedung tua/tur kota dan gak keberatan berjalan kaki. Seperti saya, mereka pun enjoy nyimak cerita dari tour guide yang informatif. Dimulai dari seberang Setasiun Jatinegara—seperti tertulis di bagian depan bangunan, lalu bergeser ke bangunan putih cantik di dekat perempatan Prumpung-Jatinegara-Pisangan-arah Cipinang—yang ternyata dulunya merupakan rumah Cornelis van Senen, hartawan Jatinegara dahulu kala. Kelar dari sana, rombongan masuk ke salah satu jalan yang membawa ke vihara “Dharma Kumala” Bio Shia Djin Kong, lalu lanjut menembus gang-gang dan menemukan Masjid Al Anwar, Rawa Bunga. Kami terus berjalan menyusuri Jalan Jatinegara Timur II dan melewati pasar loak sampai bertemu perempatan (Jalan Jatinegara Timur), menyeberang jalan, dan melintas Jatinegara Barat I, sampai melihat sekolah Santa Maria Fatima. Rombongan pun menyeberang jalan dan berbelok ke arah kanan, melewati deretan toko penjual kasur. Kemudian, kami berhenti di tepi sungai Ciliwung dan memandang Kampung Pulo dari kejauhan. Dua destinasi terakhir adalah Vihara Amurva Bhumi dan Gereja Koinonia.

Bersamaan dengan bedug magrib, berakhirlah tur jalan muterin Jatinegara. Dari perjalanan ini, saya dapat beberapa cerita cukup detail yang belum saya tahu dan bisa motret objek-objek yang sering kita lewati—tapi gak mungkin motret kalo jalan sendirian. Dengan jalan model gini, sekilo-dua kilo jalan pun jadi tak terasa. Trus, senang aja saya bisa jalan sama orang-orang yang punya ketertarikan kurang lebih sama. Dan menurut saya, buat orang-orang Jakarta yang biasa hidup enak dan ke mana-mana selalu naik-turun mobil pribadi, #Jakartawalkingtour ini bisa kasih pengalaman unik yang mungkin tak terlupakan; masuk kampung orang dan lebih mengenal lingkungan kota tempat tinggal sendiri.

So, kapan mau jalan-jalan akhir pekan gak pake ke mal?

Advertisements